Konawe – Sultrando.id, Sebuah pemandangan unik mengenai interaksi antara manusia dan satwa liar kembali terekam di jalur transportasi air Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Seekor buaya muara dilaporkan kerap menampakkan diri secara damai di sekitar jalur penyeberangan rakit tradisional (pincara) yang menghubungkan Desa Tabanggele (Kecamatan Anggalomoare) dan Desa Pebunoha (Kecamatan Bondoala).
Kehadiran reptil raksasa tersebut sempat diabadikan oleh warga dan menjadi perbincangan hangat setelah diunggah ke platform media sosial Facebook pada Sabtu (13/6/2026).
Berbeda dengan stigma meluas yang umumnya memicu kepanikan, kemunculan buaya muara di lokasi ini justru dinilai tidak meresahkan warga sekitar maupun para pelaju yang kerap melintasi sungai tersebut.
Satwa sekunder ini dikenal memiliki perilaku yang cenderung tenang dan tidak menunjukkan gestur agresif terhadap aktivitas rakit pincara.
Menurut kesaksian warga setempat, rutinitas kemunculan buaya ini telah berlangsung cukup lama, hingga masyarakat sekitar mulai terbiasa dengan kehadirannya.
Bahkan, keunikan ini kerap dimanfaatkan oleh sejumlah oknum warga untuk berinteraksi secara pasif dengan cara memberikan umpan makanan berupa daging ayam potong ke arah sungai.
“Buaya ini memang sudah sering muncul ke permukaan dan tidak pernah mengganggu warga atau pengguna penyeberangan. Karena sudah terbiasa, beberapa warga terkadang melemparkan ayam untuk memberinya makan, dan satwa itu biasanya langsung kembali menyelam setelah mendapatkan makanannya,” ujar salah seorang pengguna jasa pincara.
Aktivitas pemberian makan oleh warga dinilai berhasil membangun pola interaksi yang jinak di kawasan tersebut.
Kendati demikian, perangkat desa setempat tetap mengimbau masyarakat maupun pengguna jasa penyeberangan untuk tidak terlena, tetap menjaga jarak aman, dan tidak melakukan tindakan provokatif yang dapat memicu naluri berburu alami sang predator.
Hingga saat ini, fenomena koeksistensi damai di hulu sungai Konawe ini menjadi bukti bahwa ruang hidup antara aktivitas ekonomi masyarakat urban dan habitat satwa liar masih dapat berjalan beriringan secara selaras, selama batas-batas ruang aman tetap saling dihormati.
Laporan : Redaksi



















