Scroll untuk baca artikel
5D1E1E74 E031 46D6 BEBC 56035A54E377
Example floating
Example floating
Example 728x250
Budaya

Sakral dan Sarat Makna, Taawu Teguhkan Nilai Adat Tolaki

×

Sakral dan Sarat Makna, Taawu Teguhkan Nilai Adat Tolaki

Sebarkan artikel ini
IMG 7714
Example 468x60

Konawe – Sultrando.id, Taawu bukan sekadar senjata tradisional bagi masyarakat Tolaki, melainkan simbol jati diri, kehormatan, serta nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Di tengah arus modernisasi, eksistensi Taawu tetap dijaga sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan adat istiadat.

9 FEBRUARI 2026

Dewan Sara Fordati, Ajemain Suruambo, menjelaskan bahwa Taawu pada dasarnya memiliki fungsi yang sangat luas, tidak hanya sebagai alat perlindungan diri di masa lalu, tetapi juga sebagai simbol tanggung jawab moral bagi pemiliknya.

“Taawu itu bukan sekadar benda tajam. Ia adalah representasi keberanian, ketegasan, dan kearifan. Orang yang memakainya harus mampu mengendalikan diri, menjaga sikap, dan memahami nilai adat yang melekat di dalamnya,” ujar Ajemain.

Ia menambahkan bahwa dalam konteks adat, Taawu juga memiliki dimensi kesakralan. Tidak semua orang dapat memakainya sembarangan, karena terdapat nilai spiritual dan etika yang harus dijaga. Kesakralan tersebut terletak pada proses pewarisan, penggunaan dalam upacara adat, hingga makna filosofis yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, Ketua Umum Anandolaki Mepokoaso, Umar Bento, menegaskan bahwa di era sekarang, fungsi Taawu telah mengalami pergeseran, namun tidak kehilangan maknanya.

“Kalau dulu lebih dominan sebagai alat perlindungan dan pertahanan, hari ini Taawu menjadi simbol identitas dan pemersatu. Ia hadir dalam kegiatan adat, seremoni, hingga menjadi pengingat bahwa kita punya akar budaya yang kuat,” jelas Bento, Sapaan Akrabnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kebanggaan terhadap Taawu tidak boleh berhenti pada aspek simbolik semata. Menurutnya, setiap individu yang mengaku sebagai bagian dari Tamalaki harus memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Jangan hanya bangga membawa atau memakai Taawu sebagai aksesoris. Di balik itu ada tanggung jawab moral, ada etika, ada falsafah hidup. Itu yang harus dipahami dan dijaga,” tegasnya.

Rilisan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga menjaga nilai, makna, dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap warisan leluhur. Parang Taawu, dalam hal ini, menjadi simbol bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada senjata, tetapi pada karakter dan kebijaksanaan pemiliknya.***

E54D6788 BC03 419F 848B 42F1E6EB5D62
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sultrando.id merupakan media siber profesional yang hadir sebagai sumber informasi terpercaya bagi masyarakat, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara dan Indonesia pada umumnya.